Duhai Diri, Menulislah...

#30DWC24

Duhai Diri, Menulislah...

Sayyidina Rasullullah SAW bersabda, “Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang senantiasa mendoakannya.“
(HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi).

Salah satu amal yang bisa terus mengalirkan pahala kepada pemiliknya adalah ilmu yang bermanfaat. Kemanfaatan ilmu salah satunya didapat melalui menulis. Setiap orang yang membaca tulisan penulis, (mengenai suatu amalan misalnya) lalu kemudian mengerjakan amalan tersebut maka pahala kebaikan itu juga akan mengalir kepada sang penulis.
Dengan menulis, 'kan dapat menuai kebaikan-kebaikan yang banyak.
Jika suatu tulisan sudah diposting di blog atau ditulis dalam catatan/buku, kebaikan dalam tulisan itu akan menetap sepanjang tidak hilang dari "dekapan" manusia-manusia yang memanfaatkannya.

Duhai diri, Menulislah dengan Keberkahan.

Keberkahan mempunyai makna kebaikan yang banyak dan menetap.
Sedangkan dalan Al-Misbah berarti Berkembang, bertambah dan juga kebahagiaan. Menulis tidak boleh sekadar menulis, tulislah hal-hal yang selalu berisi kebaikan sehingga dapat menginspirasi dan untuk bisa membantu orang lain "berhijrah".

Duhai diri, saat menulis tak boleh ada secuilpun rasa sombong  mintalah pada Allah swt agar dibantu. Mintalah agar dijadikan oleh-Nya tulisan kita menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bisa membantu hijrahnya seseorang menuju kebaikan.
Menulislah bukan sekadar mengejar banyaknya kuantitas tapi yang jauh lebih penting dari pada itu adalah kualitas (keberkahan).
Banyak sudah contoh karya nyata yang tetap hidup meski raga penulisnya sudah tiada dunia.
Siapa yang tak kenal tulisan Imam muslim, imam bukhori, imam nawawi dan para ulama terdahulu. Merekalah bukti nyata Tulisan yang baik bukan karena (sekadar) best seller tapi quality yang terbukti hingga kini.

Duhai diri, tak maukah kau dapatkan faedah-faedah ini? Faedah yang bisa dituai ketika telah mampu beristiqomah dalam menulis.

1. Dapat dihindarkan dari kepikunan/kelupaan.
2. Ilmu-ilmu yang didapat dari guru akan terkumpul dengan baik dan rapi.
3. Dapat menjadi ladang dakwah.
Tidak dapat dipungkiri setiap profesi dapat dijadikan ladang dakwah jika kita mampu melihat peluang yang ada seperti contohnya Guru adalah da'i bagi murid-murinya, Bos adalah da'i bagi para karyawannya. Begitu juga bagi seorang Penulis, merupakan da'i bagi pembaca-pembacanya.
4. Bersemangat dalam belajar.
5. Membuat waktu tidak terbuang sia-sia.
Menulis: memanfaatkan kehidupan.
6. Membantuk pribadi menjadi lbh baik.
Malu jika tulisan tdk sesuai kondisi penulis. hijrah diri
7. Senantiasa menerima kritikan.
8. Menebalkan mental.

Duhau diri, kurangkah kisah-kisah para ulama tentang menulis?
Kenanglah selalu kisah dan nasihat ini. Semoga selalu menjadi trigger bagi diri untuk selalu menulis, menulis yang penuh dengan keberkahan.
Nasihat para ulama tentang menulis:
1.
Al-Imam An-Nawawy berkata, “Janganlah sekali-kali seseorang meremehkan suatu faidah (ilmu) yang ia lihat atau dengar. Segeralah ia tulis dan sering-sering mengulang kembali."
2.
As Sya'by rahimahullah berkata, “Bila engkau mendengar sesuatu maka tulislah walaupun di dinding.”
(Abu Khaitsamah dalam Al Ilmu No 146)
3.
Ibnu al-Jauzi berkata, “Aku menulis dengan jari-jemariku 2.000 jilid. Telah bertaubat melalui kedua tanganku 100.000 orang dan telah masuk Islam dengan tanganku 20.000.” [Tadzkirah al-Huffadz (4/1344)] �
4.
Imam Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ditimbang tinta pena ulama dengan darah para syuhada, maka akan lebih berat tinta para ulama atas darah para syuhada.”
[Al-Ihya (1/18)]

Duhai Diri,  Menulislah...

Terinspirasi dari Tausiyah dan ebook "Jika Suatu Saat Engkau Malas Menulis" karya Ustadz Kusnandar Putra.

Komentar